Dilema Kebosanan Dalam Sebuah Hubungan

Diteruskan Saja atau Terpaksa Harus Diakhiri?

Bukan hanya hubungan rumah tangga atau suami-isteri saja yang bisa mengalami kebosanan dalam perjalanannya, sebuah hubungan cinta yang masih dalam tahap pacaranpun bisa saja terjadi. Bila terus dibiarkan, tentu saja ini akan mengancam keutuhan dan rencana untuk membangun hubungan yang lebih serius lagi.

Pertanyaan haruskah hubungan yang sudah terjalin sekian lama itu dilanjutkan atau cukup sampai di sini saja? Bisa saja muncul dalam benak Anda. Jika Anda merasa hubungan Anda dengan pasangan berjalan "hambar" dengan rutinitas yang itu-itu saja sehingga membuat Anda bosan, Anda perlu melakukan banyak hal dan penyegaran. Ini juga merupakan cara agar pilihan dan jawaban atas pertanyaan di atas benar adanya.

Mempertimbangkan antara melanjutkan atau menghentikan sebuah hubungan memang bukan hal yang mudah. Terlebih di dalamnya sudah menggunakan perasaan dalam segala hal. Berikut ini tips yang sedikit banyak akan membantu proses Anda dalam mengambil keputusan.

Cari Apa yang Anda Inginkan
Hal yang pertama harus dilakukan yakni mencari tahu, apa keinginan hati kecil Anda. Langkah pertama yang juga harus Anda lakukan yakni dengan memberitahu pasangan Anda tentang kegelisahan dari problem Anda. Ajak pasangan Anda duduk santai, sambil minum, ngemil atau menonton acara teve favoritnya.

Ajak pula dia keluar dan tunjukkan pasangan Anda pada hal-hal yang membuat Anda bahagia, lalu ungkapkan problem Anda. Kemudian buat kesepakatan yang bisa membuat suasana berubah lebih menarik.

Kembalikan Kenangan Indah Masa Lalu
Tentu sudah banyak hal yang Anda arungi bersama dengan pasangan Anda. Kenang kembali dan buka lembaran-lembaran indah bersamanya. Dengan demikian, Anda tak akan mungkin mudah untuk memutuskan berpisah denganya setelah banyak kenangan yang sudah Anda dapatkan bersamanya. Jujurlah pada diri sendiri bahwa masa lalu yang sudah Anda lewati sangat membahagiakan Anda.

Memafkan Segalanya dan Beri Kesempatan
Jalan terbaik dari segala permasalahan yakni dengan memaafkan segala kesalahan yang pernah dibuat pasangan Anda. Beri juga dia dan Anda sendiri kesempatan untuk bisa memperbaiki hubungan Anda. Kebosanan juga bukan kata akhir yang tidak ada solusinya.

Hargai Semua Pendapat
Jika orang-orang di sekeliling Anda mulai memberikan pendapat tentang hubungan Anda, hargai mereka. Meski tidak harus percaya 100 persen tapi Anda perlu ingat bahwa hidup Anda tidak akan terlalu menyenangkan bersama seseorang yang banyak tidak disukai orang-orang yang ada di sekeliling Anda.

Bila akhirnya meski menyakitkan, keputusan untuk tidak bersama adalah akhir dari masalah kebosanan Anda. Akan tetapi terlebih dahulu, Anda mengukur kembali kadar cinta Anda dengannya. Seberapa besar? Tokh sebuah hubungan bisa kembali harmonis dengan rasa cinta yang ada. Dan bukan tidak mungkin rasa ini akan mengalahkan segalanya. Jadi pikir kembali apapun yang akan menjadi jawaban Anda.

Cocok atau Tidak Cocok?

Pertimbangkan Lagi Hubungan Anda Berdua!

Nobody's Perfect. Ungkapan itu bukan hanya digunakan sebagai pepatah dalam iklan atau judul serial komedi situasi saja namun benar-benar berlaku bagi setiap manusia dalam hal apapun. Misalnya saja … dalam hal mencari pasangan.

Arti maupun realitas ungkapan Nobody's Perfect ini sangat tepat untuk mengingatkan setiap manusia agar selalu bersikap wajar, apa adanya, dan menerima orang lain seadanya. Pepatah itu sangat berarti untuk menggambarkan bahwa tak ada manusia di muka bumi ini yang diciptakan sempurna. Begitu juga untuk urusan cinta.

Misalkan saja dalam memilih pasangan. Janganlah terlalu tinggi menetapkan kriteria calon pasangan maupun pendamping hidup Anda kelak. Hal utama yang harus dilihat baik-baik justru diri sendiri. Sudah seperti apa diri Anda sekarang? Makin baikkah? Atau malah makin tak karuan?

Jangan menuntut orang lain sempurna jika tak dapat menyempurnakan diri sendiri. Misalnya saja ada seorang pria yang menyukai seorang gadis, tapi karena faktor fisik - yaitu ia tak bertubuh atletis seperti yang diidam-idamkan, lalu pendekatannya ditolak mentah-mentah dengan seribu alasan bullshit.

Biasanya cewek memang terkenal sangat selektif dalam memilih pasangan. Tapi tak tertutup kemungkinan sekarang ini banyak cowok yang berusaha mendapatkan pasangan yang tingkat intelejensia maupun materinya tak terpaut terlalu jauh. Jangan begitu! Memang wajar jika semua pihak menginginkan yang terbaik untuk mereka, apalagi untuk masa depan. Wajar saja jika selektif memilih pasangan, malah wajib dilakukan agar tak salah pilih dan menyesal di kemudian hari. Dalam memilih pasangan tak boleh asal-asalan - misalnya: asal si dia kaya, asal si dia pandai, asal badannya atletis atau seksi, asal keluarganya 'berada', dan lain-lain - jangan menetapkan kriteria seperti itu dalam memilih pasangan! Karena hubungan cinta yang 'asal-asalan' seperti itu takkan bertahan lama.

Ada banyak faktor lain yang perlu dipikirkan matang-matang sebelum memutuskan untuk menjadikan si dia sebagai pasangan - apalagi jadi pasangan hidup.

Pertama yang harus ditanyakan adalah hati kecil sendiri.

Kedua, jangan sekali-kali tidak jujur pada diri sendiri.

Ketiga, langsung saja tanyakan hal-hal seperti berikut ini: Setiap orang pasti menginginkan pasangannya mempunyai penampilan fisik bagus. Paras yang cantik atau ganteng, bentuk badan atletis dan seksi. Tapi tanyakan dalam hati, apakah dia benar-benar kriteria pasanganmua? Jika hatimu menginginkan orang yang biasa saja dalam berpenampilan, kenapa harus memaksakan diri dengan hal-hal seperti itu?

Keempat, jangan lupa melihat bagaimana si dia memberikan perhatian dan bagaimana caranya mengekspresikan perasaannya. Karena kalau dia 100 kali dalam sehari bilang 'sayang' padamu tapi tidak pernah membuktikannya, apalah artinya rayuannya itu kalau bukan sekadar gombal belaka?

Yang lainnya adalah memperhatikan bagaimana cara dia berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Apakah dia tipe penyendiri, atau orang yang gemar berinteraksi dengan banyak orang? Lantas Anda sendiri suka dengan tipe yang bagaimana?

Jangan lupa memperhatikan intelektualitasnya. Latar belakang pendidikan, kemauan belajar, kemampuan menganalisa, dan tingkat kreativitasnya. Yang diinginkan yang standar dan biasa-biasa saja, atau si pintar jenius?

Agama. Memang ini merupakan hal yang sangat prinsipil untuk sebagian besar orang. Bila percayai bahwa perbedaan agama akan menimbulkan banyak persoalan di kelak kemudian hari, jangan biarkan kesempatan untuk menerima yang tak seagama. Bahkan, jika seagama pun, pilihlah yang mempunyai tingkat spiritual yang sebanding. Jangan sampai dia rajin beribadah, sementara Anda hanya sekadar mendengar atau melihat belaka. Akan tetapi jika Anda termasuk orang yang tak menjadikan agama sebagai penghalang hubungan dan memandang semua agama itu sama baik dan terpuji seperti agama Anda, maka berusahalah untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan itu, dan tanamkan pula pada diri pasangan Anda nantinya. Tokh, pada hakekatnya Tuhan itu satu, hanya manusianya saja yang terkesan terlalu membeda-bedakannya.

Hal lain selain agama adalah komunikasi. Hal ini sangat rentan dalam suatu hubungan. Perhatikan selalu bagaimana bentuk komunikasi yang telah terjalin selama berkenalan dengan dia. Apakah nyambung atau mesti sering mengulang pembicaraan agar dia mengerti arah pembicaraan? Apa tanggapan dan jawaban setiap pembicaraan Anda padanya? Apakah dia menjawabnya dengan baik (tak melenceng dari topik) atau malah melantur dan tulalit?

Harus juga diperhatikan kondisi pekerjaan dan sisi finansialnya. Jangan menyebutkan diri seorang materialistis untuk hal ini. setiap manusia perlu materi, kan? BOHONG jika ada yang bilang TIDAK! Kecuali menganut prinsip "Yang penting saya sayang dan cinta…", atau memang sudah 'berlebihan' secara materi. Cobalah untuk melihat sisi pekerjaan si dia. Apakah capable dalam profesinya sekarang, apakah bertanggungjawab dengan tugas-tugasnya, atau sebaliknya hanya duduk memberi perintah sana-sini pada bawahan untuk melakukan pekerjaannya - alias malas.

Dengan melihat itu semua, dapat ditemukan sisi maupun tingkat kedewasaannya. Lihat bagaimana dia menghadapi semua kegiatannya, lihat juga bagaimana caranya menyelesaikan masalah, bagaimana caranya berinteraksi dengan rekan-rekannya. Jangan sampai dia mempunyai kedewasaan yang tak seimbang denganmu karena salah satu pihak akan merugi nanti! Kecuali jika salah satu dari kalian bertindak sebagai pengemong. Jika begitu adanya, sampai kapan sikap ngemong ini akan bertahan? Apalagi jika pihak cewek tak ingin disebut ibu asuh?

Lainnya adalah keterbukaan soal seks. Hal ini perlu disimak dengan baik, nyatanya tak sedikit pasangan yang akhirnya memutuskan berpisah karena problem seks. Padahal hal ini tak perlu terjadi jika kedua belah pihak saling terbuka. Akan tetapi semua berbalik pada diri masing-masing. Apakah Anda lebih suka pasangan yang berpengalaman soal seks, atau justru buta seks - atau, apakah Anda merupakan seorang yang menganggap seks tak perlu didiskusikan, dan hanya perlu dipraktekkan saja?

Terakhir adalah punya hobi dan minat sama. jika punya hobi dan minat sama, tak tertutup kemungkinan hal ini akan makin mendekatkan kalian berdua. Sebaliknya jika hobi dan minat kalian terpaut terlalu beda jelas akan menjauhkan masing-masing pihak. Misalkan saja, dia cepat bosan, atau bagaimana? Apakah dia suka hal-hal kejutan atau malah anti kejutan?

Bagaimanapun complicated-nya kriteria-kriteria di atas, tentu saja tak perlu terlalu dijadikan patokan mati. Semua tergantung pada Anda karena setiap orang punya kriteria dan keinginan yang berbeda dalam memilih pasangan. Kami hanya ingin Anda lebih dewasa dan bijak dalam melakukannya. Tokh, Anda tidak ingin gagal dalam membina hubungan mesra, bukan? so, grow-up…..!!!

Soulmate

Memastikan Pendamping Hidup Sejati yang Sehati

Mencari orang yang tepat yang kita sebut sebagai pasangan sehati memang gampang-gampang-sulit. Walau ada sebagian orang yang diberi Tuhan jalan mulus untuk menemukan tambatan hatinya, tapi tak sedikit pula orang yang merasa kesulitan. Ujung-ujungnya, pandangan masyarakat bahwa orang tersebut terlalu pilah-milih menjadi alasan yang selalu mereka kemukakan. Padahal tak melulu alasan tersebut benar.

Siapapun kekasih Anda, dialah orang yang paling sempurna di … mata Anda. Tapi sejauh mana kesempurnaannya? Atau salah-salah cinta Anda yang besar yang memburamkan pandangan real Anda.

Berikut beberapa hal yang seharusnya ada pada diri pasangan Anda, so telitilah dia, bila cocok semua bolehlah berlega hati.
Pasangan yang sempurna adalah dia yang tak pernah bosan mendengar kisah yang kamu ceritakan dan tak pernah bilang bahwa ceritamu terkadang berlebihan apalagi menjemukan. Ia adalah tipe pendengar setia. Ia juga terkadang memberikan saran yang masuk akal dari setiap solusi yang Anda hadapi.

Tapi berbeda halnya bila pasangan Anda termasuk orang yang tak ingin Anda curhati. Alasan terlalu cegeng dan mendramatisir keadaan setiap kali Anda mengeluh soal apapun adalah satu hal yang menggambarkan bahwa dia tak ingin mengetahui apa dan bagaimana kehidupan dan jalan hidup Anda.

Pasangan sejati juga takkan pernah bosan berjalan dengan Anda, meskipun wajah Anda mungkin nggak terlalu cakep dan terlalu gendut atau mungkin sudah peyot. Dia juga takkan marah dan bisa memaklumi kondisi Anda bila Anda lagi sibuk dan tak bisa menemaninya.

Hal lain yang tak kalah penting, yakni ia selalu melibatkan Anda dalam sekecil apapun perjalanan hidupnya. Ia ingin bisa berbagi kesenangan, dan juga dukanya bersama Anda. Satu rentetan yang memperlihatkan bahwa dia ingin selalu bersama Anda.

Tapi Anda perlu mempertimbangkan untuk meneruskan hubungan ke arah yang lebih serius bila ternyata ia lebih suka tinggal di rumahnya ketimbang pergi keluar bareng kamu. Dia juga pintar bikin joke-joke atau sindiran terhadap teman atau orangtua kamu. Bila Anda dalam kesulitan, ia juga enggan memberikan saran. Contoh paling simple saat Anda menanyakan mana dari dua baju yang sebaiknya dibeli. Maka terkadang jawabnya singkat dan menyuruh Anda membeli saja keduanya.

Kalau Anda lagi asyik ngobrol dengan orang lain, dia juga selalu menunjukkan sikap bete. Tak jarang ia juga ngambek seperti anak kecil kalau keinginannya tak dituruti. Kalau sudah begini, Anda perlu mempertimbangkan kembali untuk melangkah ke pernikahan. Setuju kan?!